Rabu, 16 Maret 2011

Pidato Rahbar Ayatullah Ali Khamanei Menyambut Maulid Nabi Besar Muhammad SAW



Nabi pembawa rahmatan lil ‘alamin merupakan sumber kebajikan dan berkah bagi umat manusia, malah dihujat oleh musuh dan orang-orang bayarannya melalui media, statemen politisi, dan karya tulis mereka

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Pertama-tama saya mengucapkan selamat datang kepada Anda, saudara dan saudari sekalian, yang telah berkenan datang kemari -baik yang dari jauh maupun yang dari dekat - sehingga terbentuklah pertemuan yang tulus dan penuh rasa persaudaraan di Husainiyah ini. Saya juga mengucapkan selamat berkenaan dengan tibanya bulan Rabi'ul Awal, yaitu bulan kelahiran Baginda Nabi Besar Muhammad bin Abdillah SAW serta merupakan salah satu penggalan masa yang sangat agung. Hijrah Nabi SAW dari Mekkah ke Madinah juga terjadi pada hari pertama Rabi'ul Awal sehingga menjadi awal penanggalan bulan Hijriah umat Islam. Jadi, bulan ini adalah Rabi'ul Maulud sekaligus Rabi'ul Hijrah.

Peristiwa-peristiwa bersejarah ini sangat agung dan bernilai bagi umat Islam. Dalam dunia modern sekarang pun, walaupun bangsa-bangsa dunia sudah ditata oleh manajemen yang tak pernah ada sebelumnya, umat Islam di pelbagai penjuru dunia masih banyak memetik inspirasi dan pelajaran dari peristiwa-peristiwa terdahulu. Di manapun seorang Muslim yang mengucapkan "Lailaha illa Allah Muhammad Rasulullah" berada, pada bulan ini dia akan merasakan kerinduan ketika membayangkan kelahiran hamba dan manusia pilihan tersebut. Kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW membara di hati setiap Muslim.

Sebab itu, front kaum arogan dunia berniat melemahkan Islam dengan cara membidik pribadi Rasulullah SAW. Kaum Zionis dan rezim-rezim yang berada di bawah pengaruh Zionis dan tangan-tangan para kekuatan besar dunia, terutama AS, ketika hendak menjatuhkan umat Islam kerap sekali mengarahkan serangannya terhadap Rasul SAW. Ini terjadi karena pribadi Rasulullah serta kelahiran, hijrah, dan pemerintahannya selama 10 tahun di Madinah serta seluruh perilaku dan ajarannya adalah pelajaran bagi umat Islam, tentu jika umat ini merenungkan dan menghayatinya secara seksama. Sejarah dan ajaran Rasul membuka gerbang menuju kehidupan. Beliau adalah sumber ilham bagi umat Islam.

Musuh menyadari realitas ini sehingga ketakutan. Mereka bersikap frontal terhadap Rasul karena mereka cemas menyaksikan kekuatan masyarakat Islam yang berjumlah 1,5 miliar jiwa di pelbagai penjuru dunia. Nabi pembawa rahmatan lil ‘alamin merupakan sumber kebajikan dan berkah bagi umat manusia malah dihujat oleh musuh dan orang-orang bayarannya melalui media, statemen politisi, dan karya tulis mereka. Kenyataan ini harus membangkitkan kesadaran umat Islam. Kita mesti tahu bahwa dalam wujud Nabi serta kepribadian dan riwayat hidup, hijrah, jihad, sirah, kata-kata, dan tindakan beliau terkandung khazanah yang amat bernilai bagi umat Islam. Jika khazanah ini kita manfaatkan, umat Islam pasti akan menggapai suatu kedudukan yang dapat membentenginya dari gangguan, tekanan, dan intimidasi pihak lain.

Front imperialis dunia kini menghadang Islam secara terbuka. Memang, Republik Islam Iran yang menjadi sasaran serangan politik dan propaganda, tetapi permusuhan mereka terhadap Republik Islam Iran sebenarnya adalah karena negara ini mengibarkan bendera Islam, menghidupkan Islam di hati seluruh umat Islam, mengkampanyekan Islam, memperjuangkan kehormatan Islam, dan Republik Islam Iran menggapai kehormatannya tak lain karena Islam itu sendiri. Inilah yang memicu penentangan dan permusuhan mereka terhadap Republik Islam Iran. Pada hakikatnya, Islamlah yang mereka tentang. Dengan kata lain, mereka memusuhi setiap anggota keluarga besar Islam dan bangsa-bangsa Muslim. Semua ini harus disadari dan dimengerti dengan baik oleh segenap umat Islam dan bangsa-bangsa Muslim.

Musuh membawa-bawa label HAM, demokrasi, dan adakalanya isu energi nuklir sebagai pretensinya dalam menyulut permusuhan. Tapi faktanya bukan ini. Faktanya ialah bahwa mereka mengendus Islam sebagai faktor yang dapat mengubah umat Islam menjadi kekuatan raksasa. Inilah yang mereka perangi. Mereka tahu bahwa citra, sejarah hidup, dan ajaran Rasulullah SAW dapat mengangkat umat Islam dari keterpurukan, meniupkan semangat padanya, dan menyulap umat Islam menjadi elemen yang sangat berpengaruh di kancah internasional. Mereka tidak ingin umat Islam menemukan martabatnya. Siapa yang tidak tahu bahwa AS adalah musuh nomor satu bagi HAM?! Ketika saya menyebut AS, maksud saya tentu bukan rakyat AS. Yang saya maksud adalah para politisi, penguasa, dan eksekutif AS, serta para pengendali kekuasaan di AS dan Rezim Zionis Israel. Merekalah musuh HAM nomor wahid.

Coba perhatikan apa yang terjadi di Gaza, di Palestina, dan bagaimana perlakuan mereka terhadap bangsa-bangsa Muslim lainnya. Perhatikan kekejaman mereka terhadap bangsa-bangsa tertindas di Irak dan Afghanistan. Lihatlah penyiksaan yang mereka praktikkan. Presiden AS secara resmi menolak undang-undang anti penyiksaan. Artinya, penyiksaan harus dilegalkan agar tentara AS bisa bebas dan leluasa menyiksa tahanan dan menganiaya orang-orang tak berdosa yang ditangkapnya di Irak, Afghanistan, dan berbagai penjuru dunia lainnya. Mereka mengibarkan bendera dukungan untuk penyiksaan, tapi di saat yang sama mereka mengatasnamakan HAM. Akibat dari perlakuan para petinggi AS ini ialah menggemanya seruan "mampus Amerika!" yang kalian pekikkan ke dalam jiwa bangsa-bangsa Muslim.

Dulu hanya bangsa Iran yang sadar dan berteriak "mampus Amerika!", tapi sekarang kemana pun Presiden AS pergi, baik ke negara-negara Islam maupun non-Islam, selalu disambut massa dengan unjuk rasa disertai aksi pembakaran bendera AS dan boneka presiden AS serta diramaikan oleh teriakan "Mampus Amerika!" Dalam kondisi seperti ini, mana mungkin AS patut mengaku sebagai pembela HAM. Kekejaman AS memicu kebencian sebagian besar masyarakat dan bangsa dunia terhadapnya. Ketika secara terbuka menyetujui penyiksaan, pendudukan militer terhadap negara lain, pembombardiran penduduk, penerapan diskriminasi di dalam dan di luar negeri AS, jelas aneh jika AS berorasi tentang HAM. Tindakan AS ini justru membuat bangsa-bangsa dunia semakin tahu ambisi di balik kebijakan rezim arogan dan penebar benih kerusakan ini.

Anda, bangsa Iran, kini tidak sendirian di dunia. Slogan-slogan yang Anda pekikkan adalah slogan segenap bangsa Muslim dan bahkan sebagian besar bangsa non-Muslim. Semua ini terjadi berkat heroisme, resistensi, dan keberanian Anda. Anda telah memperlihatkan realitas kepada bangsa-bangsa dunia. Anda telah menguak kedok yang selama ini menutupi wajah kaum arogan dunia. AS pun juga tahu bahwa Andalah yang memelopori gerakan besar umat Islam ini, dan sebab itu mereka memusuhi Iran. Mereka memerangi apa saja yang dapat mengangkat martabat, kekuatan, kesejahteraan, dan ketentraman bangsa Iran. Salah satunya adalah pemilu yang akan disambut masyarakat kita dengan berbondong-bondong menuju kotak-kotak pemungutan suara. Rezim AS memusuhi pemilu Anda, antipati terhadap prinsip pemilu dan besarnya partisipasi rakyat, memerangi pemilihan tokoh-tokoh yang berkwalitas, pro hak rakyat, agamis, dan taat kepada prinsip dan nilai-nilai Islam. Sebab AS tahu bahwa pemilu, partisipasi rakyat, dan tampilnya tokoh-tokoh yang layak di parlemen akan membahayakan AS.

Mereka melakukan apa saja yang dapat mereka lakukan; menebar propaganda, termasuk melalui siaran radio dengan anggapan bahwa sambutan masyarakat akan dingin terhadap pemilu. Mereka bekerja berdasarkan fantasi mereka sendiri. Dan hasilnya malah kontraproduktif , insya Allah.
Pekan lalu AS menyatakan ingin mengusik Iran melalui koridor Dewan Keamanan PBB dengan maksud menjauhkan rakyat Iran dari kotak-kotak pemungutan suara. Coba bayangkan; dengan perilaku seperti ini AS mengaku sebagai pembela demokrasi! Di mana pun, arti demokrasi adalah partisipasi rakyat dalam pemilu. Apa ada makna lain selain ini?! Tapi karena AS tahu bahwa besarnya animo dan partisipasi rakyat Iran dalam pemilu meniscayakan kekuatan dan kehormatan untuk bangsa ini, maka AS tidak menghendakinya. Tapi sejak dulu sampai sekarang sudah jelas; setiap kali musuh berniat mencegah partisipasi rakyat dalam pemilu, rakyat Iran malah semakin antusias terlibat dalam pemilu. Dengan taufik Ilahi, kali ini pun rakyat Iran juga akan demikian.

Rakyat mengerti bahwa partisipasi mereka dalam pemilu adalah modal untuk menggalang kekuatan dan wibawa mereka di mata internasional. Musuh menginginkan boikot rakyat Iran terhadap pemilu agar menjadi tanda keberpalingan rakyat dari pemerintahan Islam, dan dengan demikian pemerintahan Islam akan melemah dan merekapun dapat menekan bangsa, negara, dan pemerintah Iran. Musuh tahu bahwa gelora partisipasi masyarakat dalam pemilu akan menjadi kekuatan bagi rakyat dan dengan demikian mereka tidak bisa lagi menggarap apa yang diproyeksikannya terhadap Iran. Mereka sudah mengerahkan semua media propagandanya agar rakyat memboikot pemilu.

Di Iran tentu saja ada antek-antek mereka. Di luar media radio dan alat-alat propaganda mereka lainnya, di Iran ada orang-orang tertentu yang bergerak untuk mengikis antusias rakyat terhadap pemilu. Mereka menebar keraguan terhadap pelayanan publik yang sudah begitu besar ini. Siapa yang bisa memungkiri besarnya pelayanan pemerintah dan parlemen kepada negara ini?! Banyak pekerjaan besar sudah dilakukan dan hasilnya, insya Allah, secara bertahap dapat dinikmati oleh masyarakat. Mereka menghujat pemerintah, parlemen, dan pejabat Iran lainnya agar rakyat pesimis. Mereka, misalnya, menebar kecurigaan apakah pemilu ini bebas atau tidak? Apakah tidak ada manipulasi dalam pemilu? Saya katakan kepada Anda bahwa saya yakin sepenuhnya bahwa pemilu yang dua atau tiga hari lagi akan terlaksana maupun pemilu pada periode-periode sebelumnya berjalan secara sehat, insya Allah.

Sebab itu, sekali lagi saya tegaskan bahwa keikut sertaan rakyat dalam pemilu adalah kewajiban politik sekaligus kewajiban agama. Ini adalah ibarat orang yang menguatkan tubuhnya dengan mengkonsumsi vitamin dan makanan-makanan bergizi. Ketika tubuh kuat, kuman tidak akan bersarang di dalamnya. Jika musuh menyerang, rakyat akan dapat membela diri. Dengan demikian, masalah yang paling krusial dalam pemilu ialah partisipasi masyarakat.

Selama 30 tahun ini, rakyat Iran sudah terlatih menghadapi setiap ujian untuk menunjukkan kekuatan nasionalnya. Dalam pawai akbar, unjuk rasa, pemilu, medan laga di era Pertahanan Suci, dan di kancah apapun yang dapat menunjukkan kekuatan nasionalnya, rakyat Iran selalu tampil dengan cerdas dan berani. Sepanjang kurang lebih 30 tahun pasca revolusi, terbukti bahwa negara, bangsa, dan pemerintah Anda kian hari kian menguat. Cita-cita, prinsip, dan norma-norma revolusi semakin hidup hari demi hari.

Apakah nilai-nilai revolusi? Pertama ialah terpaterinya keimanan dan keagamaan di hati bangsa, dan ini adalah motor bagi semua pekerjaan dan perjuangan. Kemudian keadilan sosial, pemberantasan korupsi, penegakan kebebasan rakyat dalam pemilu, tidak adanya pemaksaan pendapat pribadi, kelompok, partai, pemerintah dan lain sebagainya terhadap rakyat. Biarkan rakyat berpikir dan bekerja secara bebas dalam bingkai ketentuan Islam. Inilah makna dari kerakyatan yang agamis, dan inilah yang menjadi nilai-nilai dan prinsip revolusi. Sebab itu, Anda yang akan mendatangi kotak pemungutan suara dan memberikan suara, harus bertujuan membentuk Majelis Syura Islam yang komitmen kepada prinsip dan nilai-nilai revolusi. Bentuklah majelis yang berisikan para wakil yang agamis, jujur, komitmen kepada keadilan sosial dan tegaknya keadilan di seantero negeri, anti korupsi di semua bidang dan semua jajaran pejabat, dan komitmen kepada kehormatan Republik Islam.

Kita sudah melewati tujuh periode Majelis Syura Islam. Di majelis ini terkadang ada orang-orang menentang keislaman nama dari majlis dan parlemen ini. Pada periode pertama ada pembahasan soal penamaan Majelis Syura Islam. Ada sebagian orang yang menolak keberadaan kata Islam. Kalau sudah demikian, mereka jelas bukan wakil rakyat Iran. Sebab rakyat Iran sudah berkorban sedemikian rupa tak lain demi Islam. Di saat rakyat Iran mencari keagungan, kehormatan, kekuatan, ketentraman, dan kesejahteraannya hanya dalam Islam, tiba-tiba ada sekelompok orang yang menentang keberadaan predikat Islam untuk Majelis. Ini jelas tidak kita kehendaki.

Di lain periode, ada pula orang yang seirama dengan pihak musuh. Dia mengatakan kita lebih baik menghentikan pengembangan nuklir. Dia bahkan mendesak supaya dibuatkan UU yang melarang pemerintah melanjutkan kegiatan nuklirnya. Di Majelis kita ternyata ada orang-orang seperti ini. Ini jelas tidak dikehendaki oleh rakyat Iran. Namun, pada periode Majelis sekarang, yang terjadi justru penetapan UU yang mewajibkan pemerintah untuk melanjutkan aktivitas nuklirnya serta menyingkirkan segala kendala yang menghadangnya. Kita punya banyak macam orang.

Kita harus waspada penuh. Seluruh komponen bangsa ini harus berhati-hati. Bangsa ini harus mengirim wakil yang agamis, jujur, pro keadilan, anti korupsi, peduli kepada hak rakyat jelata, dan komitmen kepada prinsip dan nilai-nilai Islam serta garis Imam Khomeaini ra. Dengan wakil sedemikian rupa, Majelis akan kuat dan terhormat. Memang, tak semua orang dapat memastikan identitas para calon, tetapi setidaknya harus berusaha mencari tahu dengan bertanya kepada orang yang mengerti dan jujur.

Saya tegaskan bahwa memberikan suara untuk orang yang layak duduk di Majelis akan ada pahalanya di sisi Allah SWT, walaupun mungkin salah dalam menentukan kelayakan seseorang. Hanya saja, pahalanya akan berlipat jika pilihannya benar. Jadi, memberikan suara, berjalan menuju kotak pemungutan suara, dan berpartisipasi dalam ujian besar ini saja sudah cukup mendatangkan pahala. Allah SWT menyaksikan segala amal perbuatan kita. Allah SWT berfirman:

و قل اعملوا فسيرى اللَّه عملکم و رسوله و المؤمنون

"Dan beramallah kalian, niscaya Allah serta rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman akan menyaksikan amal perbuatan kalian." (al-Taubah 105)
Orang-orang yang beriman di negara-negara lain pun juga akan gembira menyaksikan partisipasi Anda di kotak-kotak pemungutan suara. Bangsa-bangsa Muslim melihat pemilu di Iran dengan rasa was-was akibat sensasi yang ditebarkan musuh kita yang jahil yaitu, para penguasa AS, terhadap pemilu ini. Semua orang ingin melihat bagaimana sambutan dan partisipasi rakyat Iran terhadap pemilu, dan siapa yang akan dipilih. AS mengharapkan terpilihnya orang-orang tertentu. Umat Islam lantas ingin melihat skenario siapakah yang akan berjalan; AS atau skenario Iran dan Islam sendiri? Apa yang diinginkan AS jelas bertolak belakang dengan interes Iran. Semoga Allah SWT senantiasa merahmati Imam Khomeini yang pernah mengatakan, "Kalian jangan takut kepada perseteruan dan hujatan musuh, sebab ketika musuh menghujat, ketahuilah bahwa kalian telah atau akan melakukan satu pekerjaan besar, yaitu mengecewakan musuh! Yang perlu kalian takutkan ialah ketika musuh memuji kalian, sebab ini pertanda kalian telah berbuat kesalahan yang menguntungkan pihak musuh."

Siapa saja yang tidak dikehendaki musuh Iran untuk menjabat di Majelis maupun di pemerintahan, dia justru harus menjabat dan pasti menguntungkan Iran. Dan siapa saja yang dikehendaki musuh agar menjabat di lembaga kekuasaan negara atau di badan legislatif, dia justru jangan dibiarkan menjabat karena dia pasti akan bekerja sesuai dengan kehendak musuh. Wakil rakyat yang memiliki kelayakan ialah orang yang berpegang teguh pada Islam, komitmen kepada keadilan dan segala kepentingan nasional, serta memahami batas dirinya dengan musuh. Jika tidak demikian, maka dia tidak bisa menjadi wakil yang baik dan representatif.

Alhamdulillah, faksi-faksi politik yang ada di negara kita hampir seluruhnya sepakat soal prinsip-prinsip Islam dan revolusi. Hanya ada kelompok kecil yang tidak sepakat. Meski demikian, batasan-batasan tetap harus diperjelas. Sebagian sudah pantang terhadap musuh, sedangkan sebagian lainnya masih mempertimbangkan musuh. Padahal yang harus dipertimbangkan adalah rakyat dan Allah SWT, bukan musuh. Musuh adalah musuh; apapun pertimbangan Anda terhadap musuh dan dengan alasan apapun kalian mundur, musuh pasti akan bergerak maju. Musuh akan menerobos masuk jika kubu pertahanan kalian tidak kuat. Musuh berharap demikian. Ini adalah barometernya, dan rakyat di mana saja berada harus memperhatikan barometer ini. Orang yang batasnya dekat dengan musuh atau tak seberapa jelas kurang layak untuk masuk ke Majelis. Pilihlah orang-orang yang jelas batasnya dengan musuh. Sebelumnya saya pernah menegaskan hal ini, tetapi sekarang saya tegaskan lagi.

Mohonlah pertolongan kepada Allah SWT, dan mintalah bantuan orang-orang yang mengerti, memegang amanah, dan jujur, agar kalian tahu siapa yang harus kalian kirim ke Majelis. Dengan begitu, Majelis akan dapat memperjuangkan cita-cita bangsa dalam arti yang sebenarnya.
Alhamdulillah, dalam berbagai periode selama ini, kita melihat terbentuknya Majelis yang bisa langsung bekerja secara kompak berkat suara mayoritas rakyat. Mereka membuat UU dengan bagus dan dapat mendorong pemerintah untuk bekerja dengan baik. Insya Allah, Majelis periode kedelapan juga akan banyak membantu terlaksananya berbagai pekerjaan yang baik, membantu terlaksananya apa yang diinginkan oleh para pejabat eksekutif, membantu membukakan jalan, serta membuat dan mengawasi UU yang efiesen.

Majelis adalah lembaga yang bertugas meletakkan dan mengawasi UU. Semoga Majelis bisa membuat UU yang mudah dilaksanakan oleh pemerintah dalam memberikan pelayanan kepada rakyat. Alhamdulillah, pemerintah-pemerintahan kita khususnya pemerintahan saat ini telah banyak mengabdi. Pemerintah sudah menunjukkan banyak aktivitas dan usaha yang baik. Pemerintah banyak melakukan pekerjaan yang memang diharapkannya terlaksana demi rakyat.

Dari sisi lain, Majelis memang mesti mengawasi kinerja pemerintah. Pengawasan harus ada sebagaimana manusia memang mesti diawasi, baik oleh hati nuraninya sendiri maupun oleh perangkat penegak hukum, selain juga harus tahu bahwa manusia berada di bawah pengawasan Allah SWT. Majelis yang baik harus demikian.

Kita memohon pertolongan kepada Allah SAW agar bangsa ini dan segenap rakyat di berbagai kota dan daerah, baik di Teheran maupun di pelbagai propinsi, kota, dan daerah lainnya, bisa ikut serta dalam pemilu ini dengan penuh semangat dan motivasi serta dengan niat mendekatkan diri kepada Allah SWT. Partisipasi umum ini, insya Allah, pertama dapat menambah kehormatan dan wibawa bangsa Iran di depan musuh, dapat merontokkan segala fitnah yang diupayakan oleh pihak musuh. Kedua, dapat mewujudkan Majelis yang sepenuhnya bermanfaat untuk rakyat serta cita-cita dan nilai-nilai revolusi. Insya Allah, Hazrat Baqiyyatullah (Imam Mahdi as) menolong kita. Insya Allah, arwah para syuhada dan ruh Imam Khomaini yang telah membukakan jalan untuk bangsa Iran dikumpulkan dengan arwah para Nabi dan wali Allah.
Wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh

Jumat, 11 Februari 2011

IMAM KHUMAINI

Imam Khomeini: Dari Lahir Hingga Wafat

Ruhullah Musavi Khomeini lahir pada tanggal 20 Jumadis-Tsani 1320 H (24 September 1902) di kota Khomein, provinsi Markazi, Iran tengah. Ia terlahir di tengah keluarga agamis, ahli ilmu, dan pejuang, keluarga terhormat yang masih menyimpan darah keturunan Sayidah Fatimah Az-Zahra ra, putri Rasulullah saw. Ruhullah adalah pribadi agung yang menjadi pewaris kemuliaan para bapak dan datuknya yang selalu mengabdikan diri untuk membimbing umat dan menuntut makrifat ilahi dari suatu generasi ke generasi lainnya. Ayah Imam Khomeini adalah Al-Marhum Ayatollah Sayid Mostafa Musavi. Beliau hidup sezaman dengan Al-Marhum Ayatollah Al-Udzma Mirza-e Shirazi. Setelah bertahun-tahun menuntut ilmu agama di kota suci Najaf dan berhasil meraih gelar mujtahid, Ayatollah Sayid Mostafa Musavi kembali ke Iran dan menetap di Khomein. Di kota kecil inilah beliau mendermakan umurnya untuk mengabdi kepada masyarakat dan menjadi pembimbing mereka dalam urusan agama. Hanya selang 5 bulan setelah kelahiran
Ruhullah, Ayatollah Sayid Mostafa Musavi, gugur syahid akibat serangan teror pembunuh bayaran para tuan tanah Khomein di waktu itu. Beliau meneguk manisnya madu syahadah setelah peluruh panas bersarang ke tubuhnya saat menempuh perjalanan dari kota Khomein menuju Arak. Di masa itu, ayah Ruhullah memang dikenal sebagai seorang pejuang yang senantiasa menentang kezaliman para penguasa. Tak lama kemudian, sanak famili Ayatollah Musavi bertandang ke pemerintah pusat Tehran, guna menuntut diterapkannya hukum Qishash terhadap para pelaku teror. Sejak kecil Ruhullah memang sudah terbiasa dengan derita anak yatim dan mengenal arti syahid. Di masa kecil dan remajanya, Ruhullah berada di bawah asuhan ibunya, bernama Hajar. Ibunya sendiri adalah putri keluarga ulama. Ia adalah cucu Al-Marhum Ayatollah Khounsari, penulis kitab Zubdah Al-Tasanif. Bersama ibunya, Ruhullah juga diasuh oleh bibinya yang dikenal sebagai seorang perempuan pejuang, bernama Sahebah. Namun menginjak usia 15 tahun, Ruhullah pun kehilangan belaian kasih ibu dan bibinya. Hijrah ke Qom Tak lama setelah kepindahan Ayatollah Al-Udzma Haj Syeikh Abdul Karim Hairi Yazdi, ke Qom pada Rajab 1340 H (Sekitar bulan Maret 1921), Imam Khomeini pun akhirnya turut hijrah ke Hauzah Ilmiah Qom dan dengan segera ia menyelesaikan pendidikan tingkat akhirnya di sana. Imam Khomeini mempelajari bagian akhir kitab Al-Muthawwal di bidang ilmu ma’ani dan bayan (sastra Arab) di bawah bimbingan Agha Mirza Muhammad Ali Adib Tehrani. Sebagian besar pelajaran tingkat menengah hauzahnya ia tamatkan di bawah asuhan Ayatollah Sayid Ali Yatsribi Kashani, dan juga Ayatollah Sayid Muhammad Taqi Khounsari. Sementara pelajaran Fiqih dan Ushul Fiqih beliau pelajari dari Ayatollah Al-Udzma Haj Syeikh Abdul Karim Hairi Yazdi, pendiri Hauzah Ilmiah Qom. Setelah wafatnya Ayatollah Hairi Yazdi, berkat upaya Imam Khomeini dan para ulama besar Hauzah Ilmiah Qom lainnya, Ayatollah Al-Udzma Boroujerdi akhirnya dikukuhkan sebagai pengasuh Hauzah Ilmiah Qom. Di masa itu, Imam Khomeini terpilih sebagai salah satu pengajar Hauzah dan dikenal sebagai mujtahid di bidang Fiqih, Ushul Fiqih, Filsafat, Irfan, dan Akhlak. Selama bertahun-tahun menjadi pengajar di Hauzah, Imam Khomeini mengajar di madrasah Faiziyah, masjid A’zam, masjid Muhammadiyah, madrasah Haj Molla Shadiq, masjid Salmasi dan beberapa tempat lainnya. Sementara itu, selama 14 tahun di Hauzah Ilmiah Najaf, Irak, Imam Khomeini mengajar ilmu-ilmu Ahlul Bait as dan fiqih pada peringkat tertinggi Hauzah, di masjid Syeikh A’zam Ansari. Di kota Najaf inilah, Imam Khomeini untuk pertama kalinya mengungkapkan dasar-dasar teori pemerintahan Islam dalam rangkaian pelajaran wilayatul-faqihnya. Perjuangan dan Kebangkitan Imam Khomeini Semangat perjuangan dan jihad Imam Khomeini, berakar pada pandangan akidah, pendidikan, lingkungan keluarga, dan situasi politik dan sosial di sepanjang masa hidupnya. Perjuangan beliau dimulai sejak masa remajanya, lantas berkembang kian matang seiring dengan perkembangan psikologis dan ilmiah

Imam Khomeini di satu sisi, dan transformasi politik dan sosial di Iran dan dunia Islam di sisi lain. Pada tahun 1340 hingga 1341 HS (1961-1962), rezim Pahlevi mengesahkan aturan yang dikenal dengan nama Anjomanha-ye Eyalati va Velayati (Lembaga Lokal dan Federasi). Peristiwa ini merupakan kesempatan bagi Imam Khomeini untuk memimpin kebangkitan para ulama. Sehingga kebangkitan massal para ulama dan rakyat Iran pada tanggal 15 Khordad 1342 HS (5 Juni 1963) meletus. Kebangkitan 15 Khordad memiliki dua ciri utama: kepemimpinan tunggal Imam Khomeini dan keIslaman motif, tujuan, dan slogan kebangkitan. Kebangkitan ini merupakan babak baru perjuangan bangsa Iran yang kemudian dikenal sebagai Revolusi Islam. Saat Perang Dunia I berlangsung, Imam Khomeini masih berusia 12 tahun. Terkait hal ini, Imam Khomeini menuturkan, “Saya masih ingat terjadinya dua perang dunia. Kala itu saya masih kecil tapi tetap pergi sekolah. Saya melihat para tentara Uni Soviet yang saat itu tengah berada di Khomein. Kami pun menjadi bulan-bulanan kekejaman mereka di era Perang Dunia I”. Di bagian lain kenangannya, Imam Khomeini pernah menyebut nama-nama sejumlah penjahat bayaran yang berlindung di bawah penguasa wilayah Markazi, Iran. Mereka adalah para pengganas yang kerap merampas harta dan harga diri warga Markazi. Mengenai hal ini, Imam Khomeini mengungkapkan, “Sejak kecil saya sudah terbiasa dengan perang. Kami menjadi sasaran kejahatan kelompok Zalaqi dan Rajab Ali. Namun kami punya senjata sendiri. Pernah di suatu hari, saat saya masih anak-anak atau kira-kira di masa-masa awal baligh, saya mengawasi kantong-kantong perlindungan di kampung kami dan turut menjaga benteng pertahanan. Sementara para penjahat bayaran hendak menyerang dan merampok”. Pada tanggal 3 Esfand tahun 1299 HS (22 Februari 1921), Reza Khan menggelar aksi kudeta. Berdasarkan data-data dan bukti sejarah yang valid, kudeta tersebut didalangi dan diorganisir oleh Inggris. Meski kudeta Reza Khan berhasil mengakhiri era kekuasaan dinasti Qajar, dan mampu meminimalisir gerak para penguasa lokal yang zalim, namun kudeta tersebut memunculkan diktator baru. Diktator baru ini lantas mendirikan dinasti Pahlevi sebagai penguasa tunggal Iran. Pasca meletusnya Revolusi Konstitusional dan tekanan bertubi-tubi pemerintah dan konspirasi Inggris di satu sisi, serta perselisihan kaum elite dan intelektual kebarat-baratan di sisi lain, mendorong kalangan ulama yang ditekan untuk bangkit berjuang membela Islam. Atas permintaan para ulama Qom, Ayatollah Al-Udzma Haj Syeikh Abdul Karim Hairi Yazdi dari Arak hijrah ke Qom. Tak lama setelah itu, Imam Khomeini pun dengan segera menyelesaikan pelajaran tingkat dasar dan menengah Hauzahnya di Khomein dan Arak, lantas menyusul ke Qom. Beliau juga turut aktif dalam memperkuat posisi Hauzah Ilmiah Qom yang baru saja berdiri. Dalam waktu yang relatif singkat, Imam Khomeini pun lantas dikenal sebagai ulama terkemuka di bidang irfan, filsafat, fiqih, dan ushul fiqih. Dengan wafatnya Ayatollah Al-Udzma Hairi Yazdi, pada tanggal 10 Bahman 1315 (30 Januari 1937), Hauzah Ilmiah Qom yang baru saja didirikan terancam bubar. Namun demikian, para ulama Hauzah pun segera mencari solusi. Selama delapan tahun, Hauzah Ilmiah Qom diasuh oleh Ayatollah Al-Udzma Sayid Mohammad Hojjat, Ayatollah Al-Udzma Sadruddin Sadr, dan Ayatollah Al-Udzma Sayid Muhammad Taqi Khounsari. Selang masa itu, khususnya setelah tumbangnya Reza Khan, situasi untuk memunculkan marjaiyat yang besar mulai terbuka. Ayatollah Al-Udzma Boroujerdi, merupakan figur ulama besar, yang layak untuk menggantikan posisi Al-Marhum Ayatollah Al-Udzma Hairi Yazdi. Karena itu para murid Ayatollah Hairi Yazdi termasuk Imam Khomeini segera mengusulkan untuk memilih Ayatollah Boroujerdi sebagai pengasuh Hauzah Ilmiah Qom. Dengan penuh kesungguhan, Imam Khomeini mengundang Ayatollah Boroujerdi untuk berhijrah ke Qom dan menerima tanggung jawab besar sebagai pengasuh Hauzah Ilmiah di kota ini. Dengan begitu teliti dan cermat, Imam Khomeini selalu memantau situasi politik Iran dan kondisi Hauzah. Pelbagai informasi dan data beliau peroleh lewat telaah tak kenal lelah buku-buku sejarah kontemporer, beragam majalah, dan koran. Imam Khomeini juga kerap pergi ke Tehran dan berhubungan dengan para tokoh

politik Islam, seperti Ayatollah Modarres. Imam Khomeini melihat bahwa satu-satunya harapan untuk melepaskan bangsa Iran dari jeratan penguasa dikatotar dan konspirasi asing, pasca kegagalan Revolusi Konstitusional dan berkuasanya Reza Khan adalah kebangkitan para ulama Hauzah. Tentu saja sebelum kebangkitan itu dilancarkan, upaya menjamin keberadaan Hauzah Ilmiah dan hubungan spritual masyarakat dengan ulama harus terealisasikan terlebih dahulu. Guna mencapai tujuan luhurnya, pada tahun 1328 HS (1949), Imam Khomeini bersama Ayatollah Morteza Hairi merancang program reformasi mendasar struktur Hauzah Ilmiah dan mengusulkannya kepada Ayatollah Al-Udzma Boroujerdi. Usulan tersebut mendapat sambutan positif dan dukungan para ulama dan pelajar Hauzah yang berpikiran reformis. Di sisi lain, politik rezim Syah mengalami kegagalan. Rancangan Anjomanha-ye Eyalati va Velayati yang mencabut syarat status keislaman, sumpah dengan Al-Quran, dan berjenis kelamin pria bagi para pemilih dan kandidat pemilihan umum, disahkan oleh kabinet PM Amir Asadollah Alam pada tanggal 16 Mehr 1341 HS (8 Oktober 1962). Kebebasan memilih bagi perempuan, sejatinya merupakan kedok untuk menyembunyikan agenda tersembunyi rezim Syah. Penghapusan dan perubahan dua syarat pertama di atas merupakan upaya untuk melegalkan kehadiran oknum-oknum Bahaism di pemerintahan. Sebelum itu, AS mengumumkan bahwa pihaknya akan membela Syah jika rezim ini mendukung rezim zionis Israel dan meningkatkan hubungan kerjasama Tehran-Tel Aviv. Pengaruh kubu Bahai yang didukung kekuatan penjajah Inggris, baik di kalangan pemerintah, parlemen, maupun yudikatif Iran berhasil merealisasikan syarat yang diinginkan oleh AS. Segera setelah disahkannya rancangan tersebut, Imam Khomeini bersama para ulama besar Qom dan Tehran mengadakan pertemuan, lantas diteruskan dengan menggelar aksi protes massal. Peran pencerahan Imam Khomeini dalam mengungkap agenda gelap rezim Syah dan mengingatkan tugas berat para ulama dan Hauzah Ilmiah amat berperan penting dalam situasi kritis saat itu. Pelbagai telegram dan surat protes terbuka para ulama kepada Syah dan Perdana Menteri Asadollah Alam memantik dukungan luas rakyat Iran. Nada bicara surat protes Imam Khomeini kepada Syah dan Perdana Menteri begitu pedas dan keras. Dalam salah satu surat protes ini dinyatakan, “Saya kembali menesehati Anda untuk taat kepada Allah swt dan konsititusi. Takutlah kalian pada akibat buruk dari melanggar Al-Quran, hukum para ulama dan pemimpin kaum muslimin, serta undang-undang dasar. Janganlah kalian sengaja dan tanpa sebab menyeret negara ke dalam kondisi bahaya. Karena jika tidak, para ulama Islam tidak akan berdiam diri melontarkan pandangannya mengenai kalian”. Dengan demikian, peristiwa Anjomanha-ye Eyalati va Velayati merupakan pengalaman kemenangan yang sangat berharga bagi rakyat Iran. Terlebih, kemenangan tersebut merupakan kesempatan bagi rakyat Iran untuk mengenal figur pemimpin umat Islam yang layak dari berbagai dimensi, semacam Imam Khomeini. Namun demikian, meski skenario politik Syah mengalami kegagalan dalam kasus Anjomanha, tekanan AS untuk melakukan reformasi terus berlangsung. Akhirnya pada bulan Dey 1341 (Januari 1963), Syah mengajukan enam prinsip reformasinya yang dikenal sebagai Revolusi Putih, dan menghendaki digelarnya referendum. Kebijakan reformasi rancangan AS ini mendapat tanggapan serius para ulama. Untuk kesekian kalinya Imam Khomeini mengajak para marji dan ulama Qom untuk mencari solusi dan langkah bersama. Imam Khomeini mengusulkan untuk memboikot pesta perayaan tahun baru tradisional (Nouruz) Iran 1341 HS (Maret 1963) sebagai bentuk protes terhadap kebijakan Syah. Dalam statemennya, Imam Khomeini menyebut Revolusi Putih rancangan AS sebagai revolusi hitam dan beliau membongkar tujuan AS dan rezim zionis Israel di balik program revolusi tersebut. Tentu saja gelombang protes para ulama benar-benar memukul posisi Syah. Dalam berbagai pertemuan terbukanya dengan masyarakat, Imam Khomeini mengajak rakyat Iran untuk bangkit dan secara terang-terangan menyebut Syah sebagai pelaku utama kejahatan dan sekutu rezim zionis. Imam Khomeini dalam pidatonya pada tanggal 12 Farvardin 1342 (1 April 1963) mengkritik keras sikap bungkam para ulama Qom dan Najaf serta negara-negara muslim lainnya di hadapan kejahatan rezim zionis Israel terhadap rakyat Palestina. Dalam pidatonya itu, Imam menyatakan, “Hari ini, sikap membisu sama artinya dengan mendukung penguasa zalim”. Sehari setelah itu, 13 Farvardin 1342 (2 April 1963), Imam Khomeini mengeluarkan statemen tertulisnya yang terkenal dengan tajuk “Bersahabat dengan Syah Berarti Penjarahan”. Sejatinya, rahasia pengaruh besar pesan dan pernyataan Imam Khomeini terhadap jiwa pendengarnya hingga mereka rela berkorban, terletak pada kemurnian pemikiran, kekuatan pandangan, dan kejujuran Imam Khomeini kepada masyarakat. Tahun 1342 HS (1963) diawali dengan boikot pesta perayaan tahun baru tradisional (Nouruz) Iran dan peristiwa berdarah di madrasah Faiziyah Qom. Satu sisi, Syah begitu berhasrat untuk menerapkan Revolusi Putih sebagaimana yang diinginkan oleh AS, namun di sisi lain Imam Khomeini terus berjuang menyadarkan rakyat dan bangkit menentang campur tangan AS dan pengkhianatan Syah terhadap bangsanya sendiri. Pada tanggal 14 Farvardin 1342 (3 April 1963), Ayatollah Al-Udzma Hakim di Najaf, Irak, mengirim telegram kepada para ulama dan maraji Iran yang berisi ajakan untuk hijrah ke Najaf secara massal. Usulan ini merupakan upaya untuk menyelamatkan para ulama dan tokoh hauzah. Namun demikian, tanpa mempedulikan ancaman dan tekanan Syah, Imam Khomeini membalas telegram Ayatollah Hakim. Dalam telegramnya itu, Imam Khomeini menilai bukan maslahat jika para ulama hijrah secara massal ke Najaf dan membiarkan Hauzah Ilmiah Qom dalam keadaan kosong. Imam Khomeini dalam pesannya tertanggal 12 Ordibehesht 1342 HS (2 Mei 1963) memperingati 40 hari terjadinya tragedi Faiziyah menegaskan perlunya ulama dan rakyat Iran untuk bersama-sama mendukung para pemimpin negara-negara Islam dan pemerintahan Arab menentang rezim zionis Israel serta mengutuk persekutuan Syah dengan rezim zionis. Kebangkitan 15 Khordad Bulan Muharram datang bersamaan dengan bulan Khordad 1342 HS. Imam Khomeini memanfaatkan moment tersebut untuk menggerakkan rakyat Iran bangkit melawan rezim diktator Syah Pahlevi. Pada sore Asyura 13 Khordad 1342 HS (3 Juni 1963) Imam Khomeini menyampaikan pidato bersejarahnya di madrasah Faiziyah Qom. Pidato ini merupakan titik awal kebangkitan 15 Khordad. Dalam pidatonya ini, Imam secara lantang berbicara kepada Syah dan menyatakan, “Tuan, saya menasehati Anda. Wahai Syah! Wahai yang terhormat Syah! Saya menasehati Anda agar meninggalkan seluruh upaya yang membuat Anda menjadi lalai. Saya tak ingin, suatu hari jika Anda hendak pergi justru disyukuri oleh semua pihak…Jika engkau didikte dan diperintah membaca, berpikirlah pada sekelilingmu…Dengarlah nasehat saya. Apa sebenarnya hubungan Syah dengan Israel, sehingga pihak keamanan melarang untuk tidak angkat bicara soal Israel…Apakah Syah adalah orang Israel?” Syah mengeluarkan perintah untuk menumpas gerakan kebangkitan rakyat. Mulanya, pihak keamanan menangkap banyak sahabat dan pendukung Imam Khomeini pada malam 14 Khordad (4 Juni 1963). Kemudian, pada pukul 3 pagi, 15 Khordad 1342 HS (5 Juni 1963), ratusan tentara Syah mengepung rumah Imam Khomeini. Mereka menangkap Imam saat beliau sedang menjalankan shalat malam dan segera membawanya ke Tehran. Beliau dijebloskan di penjara Bashgah-e Afsaran. Sore harinya, beliau dipindahkan ke penjara Ghasr. Pagi tanggal 15 Khordad berita penangkapan Imam Khomeini pun menyebar ke kota-kota besar Iran, seperti Qom, Tehran, Mashhad, Shiraz, dan kota-kota lainnya. Jenderal Hossein Fardust, orang kepercayaan Syah, dalam kesaksiannya menuturkan bahwa upaya penumpasan gerak kebangkitan 15 Khordad dilakukan dengan memanfaatkan pelbagai pengalaman dan bekerjasama dengan para politisi dan petugas intelijen paling handal AS. Fardust juga mengungkapkan betapa terguncangnya Syah, kalangan istana, para petinggi militer dan agen mata-mata Iran (SAVAK) saat terjadinya aksi kebangkitan 15 Khordad. Ia juga membeberkan bagaimana Syah dan para jenderal arogan mengeluarkan perintah penumpasan gerakan rakyat. Setelah 19 hari mendekam di penjara Ghasr, Imam Khomeini dipindahkan ke sebuah penjara di pangkalan militer Eshrat Abad. Dengan ditangkapnya pemimpin revolusi, Imam Khomeini, dan dilancarkannya pembantaian massal pada peristiwa 15 Khordad, tampaknya gerak revolusi sudah berhasil dipadamkan. Di penjara, Imam Khomeini dengan beraninya menolak seluruh pertanyaan yang diajukan dalam proses intrograsi. Beliau dengan lantang menyatakan bahwa pemerintah dan lembaga yudikatif Iran adalah penguasa yang ilegal dan tidak sah. Tanpa pemberitahuan sebelumnya, pada malam 18 Farvardin 1343 HS (7 April 1964), Imam Khomeini akhirnya dibebaskan dan dipindahkan ke Qom. Kabar pembebasan Imam pun menyebar luas dan disambut gembira oleh rakyat. Peringatan tahun pertama hari Kebangkitan 15 Khordad pada tahun 1343 HS (5 Juni 1964) diperingati dengan dirilisnya statemen bersama Imam Khomeini dan para marji taqlid lainnya serta pernyataan terpisah Hauzah Ilmiah. Hari itu dinyatakan sebagai hari duka. Pada tanggal 4 Aban 1343 HS (26 Oktober 1964) Imam Khomeini mengeluarkan statemen revolusioner dan menyatakan, “Dunia harus tahu, setiap musibah yang menimpa bangsa Iran dan bangsa-bangsa muslim lainnya bersumber dari pihak asing, dari AS. Secara umum, bangsa-bangsa Islam membenci pihak asing, khususnya AS. Amerikalah yang mendukung rezim zionis Israel dan para sekutunya. Amerikalah yang memberi kekuatan pada Israel hingga membuat warga muslim Arab terlantar”. Penentangan Imam Khomeini dan terungkapnya agenda AS di balik rencana disahkannya rancangan Kapitulasi, mendorong rakyat Iran untuk bangkit kembali. Dini hari 13 Aban 1343 HS (4 November 1964), pihak keamanan dari Tehran kembali datang ke Qom dan mengepung rumah Imam Khomeini. Anehnya, seperti tahun sebelumnya, Imam

ditangkap saat beliau tengah menunaikan shalat malam. Imam pun ditangkap dan langsung di bawa menuju bandara Mehrabad, Tehran. Di bawah kawalan ketat pihak keamanan Imam diboyong ke Ankara, Turki dengan sebuah pesawat militer yang telah dipersiapkan sebelumnya. Sore harinya agen intelijen Iran (SAVAK) mengumumkan berita pengasingan Imam Khomeini di koran-koran Iran dengan tuduhan merongrong keamanan negara. Meski situasi Iran berada di bawah tekanan pemerintah, namun gelombang protes dan demo tetap marak. Gelombang protes itu diwujudkan dalam bentuk aksi unjuk rasa warga di pasar besar Tehran, diliburkannya aktifitas Hauzah Ilmiah untuk jangka panjang, pengiriman kumpulan tanda tangan dan surat protes kepada lembaga-lembaga internasional dan para marji taqlid. Pengasingan Imam khomeini di Turki berlangsung selama 11 bulan. Selang masa itu, rezim syah dengan otoriternya berusaha menumpas total gerakan kebangkitan rakyat Iran yang masih tersisa dan dengan segera menerapkan rencana reformasi sebagaimana yang dirancang oleh AS. Masa pengasingan Imam Khomeini di Turki merupakan juga kesempatan bagi beliau untuk memulai penulisan buku Tahrirul-Wasilah. Pengasingan Imam Khomeini dari Turki ke Irak Tanggal 13 Mehr 1343 (5 Oktober 1965) Imam Khomeini bersama putranya, Ayatollah Haj Agha Mostafa dipindahkan dari Turki dan diasingkan ke Irak. Setelah memasuki Baghdad, Imam Khomeini segera memanfaatkan waktu yang ada untuk berziarah ke makam para Imam Ahlul Bait as seperti di Kadzimain, Samarra, dan Karbala. Seminggu setelahnya, Imam pergi ke tempat pengasingannya di Najaf. Meski selama di Irak, Imam Khomeini relatif lebih bebas ketimbang di Iran atau Turki, namun masa pengasingan di Najaf selama 13 tahun dimulai dengan maraknya penentangan, hasutan, dan fitnah musuh-musuh Imam, bahkan beliau juga mendapat penentangan keras dari kalangan yang berkedok ulama. Imam bahkan menyebut masa pengasingan di Irak sebagai babak perjuangan yang begitu pahit. Namun begitu, beliau tetap sabar menghadapi segala tantangan yang ada dan terus melanjutkan perjuangannya. Di bawah tekanan para penentangnya, Imam Khomeini mulai mengajar rangkaian pelajaran fiqih tingkat tingginya di masjid Syeikh Anshari, Najaf pada bulan Aban 1344 HS (sekitar November 1965). Kegiatan mengajar tersebut beliau lanjutkan hingga akhirnya beliau pindah ke Paris. Pelajaran fiqih Imam terkenal sebagai salah satu kelas Hauzah Ilmiah Najaf paling berbobot dan diminati. Hubungan Imam Khomeini dengan kawan-kawan seperjuangannya di Iran masih beliau jalin lewat pengiriman surat dan utusan. Imam Khomeini selalu memandu mereka dan mengajak mereka untuk tetap bertahan memperjuangkan cita-cita Kebangkitan 15 Khordad. Di masa-masa pasca pengasingan, Imam Khomeini tak pernah menyerah untuk berhenti berjuang meski didera berbagai tekanan dan ancaman. Ceramah-ceramah dan pesan-pesan tertulis Imam Khomeini selalu mengobarkan harapan kemenangan di hati setiap rakyat Iran. Pada tanggal 19 Mehr 1347 HS (11 Oktober 1968), dalam dialognya dengan utusan gerakan Fatah, Palestina, Imam Khomeini memaparkan pandangannya tentang persoalan dunia Islam dan perjuangan rakyat Palestina. Dalam dialog ini pula, Imam Khomeini mengeluarkan fatwa yang mewajibkan untuk menyisihkan sebagian harta zakat bagi kepentingan para pejuang Palestina. Pada awal tahun 1348 HS (1969), perselisihan antara rezim Syah dan partai Ba’ath yang berkuasa di Irak soal perbatasan air Iran-Irak makin memuncak. Pemerintah Irak mengusir banyak warga Iran yang bermukim di Irak. Mereka juga berupaya memanfaatkan permusuhan Imam Khomeini dengan rezim Syah. Setelah 4 tahun mengajar di Hauzah Najaf dan berjuang keras mencerahkan masyarakat di sekitarnya, Imam Khomeini relatif berhasil mengubah situasi Hauzah Ilmiah Najaf. Akhirnya pada tahun 1348 HS (1969) Imam Khomeini tidak hanya berhasil menjaring dukungan dari dalam negeri Iran, tapi juga berhasil menarik dukungan masyarakat muslim lainnya seperti dari Irak, Lebanon dan negara-negara Islam yang lain. Paradigma perjuangan Imam Khomeini mereka jadikan sebagai model perjuangan mereka. Perjuangan Tak Kenal Menyerah Imam Khomeini (1350-1356 HS) Paruh kedua tahun 1350 (menjelang akhir tahun 1971), perselisihan antara rezim Ba’ast Irak dan Syah Iran makin memanas. Perselisihan itu diikuti dengan diusirnya warga Iran yang bermukim di Irak. Dalam telegramnya kepada Presiden Irak di masa itu, Imam Khomeini mengecam keras aksi pengusiran tersebut. Dalam situasi semacam itu, Imam Khomeini bertekad untuk segera keluar dari Irak. Namun pemerintah Baghad tanggap dengan dampak dari keluarnya Imam Khomeini dari Irak sehingga Imam pun dilarang meninggalkan Irak. Pada tahun 1354 HS (Juni 1975) bersamaan dengan peringatan hari Kebangkitan 15 Khordad, madrasah Faiziyah kembali menjadi pentas kebangkitan para santri revolusioner Iran. Yel-yel ‘Hidup Khomeini dan matilah dinasti Pahlevi’ terus membahana selama dua hari berturut-turut. Padahal, sebelum peristiwa ini, banyak organisasai-organisasi perjuangan rakyat yang telah dilumpuhkan, para tokoh keagamaan dan politik yang aktif berjuang ramai yang dijebloskan ke penjara. Di sisi lain, Syah terus melanjutkan politik anti-Islamnya. Kebijakan anti-Islamnya itu ditandai dengan diubahnya dasar kalender nasional Iran pada bulan Esfand 1354 HS (Maret 1976). Selama ini, dasar kalender nasional Iran dihitung sejak dimulainya hijrah Nabi Muhammad saw. Namun dasar tersebut diubah oleh Syah dengan menetapkan masa dimulainya kekuasaan dinasti Achemanid sebagai dasar perhitungan kalender nasional Iran. Mereaksi hal itu, Imam Khomeini mengeluarkan fatwa yang mengharamkan penggunaan kalender nasional Iran versi Syah. Rakyat Iran pun mendukung penuh fatwa Imam Khomeini tersebut, mereka juga turut mendukung diboikotnya Partai Rastakhiz (Kebangkitan). Kedua masalah ini merupakan pukulan berat bagi rezim Syah hingga akhirnya pada tahun 1357 (1978), Syah terpaksa melangkah mundur dan membatalkan penggunaan kalender nasional versi pemerintah. Geliat Revolusi Islam dan Kebangkitan Rakyat Dengan begitu teliti dan cermat, Imam Khomeini terus memantau perkembangan terbaru di Iran maupun dunia internasional. Beliau juga amat tanggap dalam memanfaatkan secara maksimal kesempatan yang muncul. Imam Khomeini pada bulan Mordad 1356 HS (Agustus 1977) dalam pesan tertulisnya menyatakan, “Kini, lewat situasi dalam dan luar negeri yang ada, serta dengan terungkapnya kejahatan rezim Syah di mata publik dan media asing merupakan kesempatan bagi kalangan ilmuan, budayawan, tokoh nasionalis, mahasiswa dalam dan luar negeri, dan organisasi-organisasi Islam di mana pun berada untuk tanggap memanfaatkan peluang yang ada dan bangkit secara terbuka”. Gugur syahidnya, putra Imam Khomeini, Ayatollah Haj Agha Mostafa Khomeini, pada awal bulan Aban 1356 HS (23 Oktober 1977) merupakan titik tolak gerakan kebangkitan kembali komunitas Hauzah dan masyarakat muslim Iran. Imam Khomeini bahkan menyebut peristiwa itu sebagai anugrah tersembunyi ilahi. Sementara itu rezim Syah membalas aksi Imam Khomeini dengan melansir sebuah artikel di koran Ettela’at . Artikel ini berisi hinaan terhadap Imam Khomeini. Protes luas rakyat Iran terhadap artikel tersebut berujung dengan melutusnya peristiwa Kebangkitan 19 Dey 1356 HS (9 Januari 1978) di Qom. Dalam peristiwa tersebut, sejumlah santri pendukung revolusi gugur syahid akibat tindak represif pihak keamanan. Meski Syah melancarkan aksi pembantaian massal untuk melumpuhkan gejolak kebangkitan rakyat, namun ia tetap gagal memadamkannya. Dari Najaf ke Paris Pertemuan para menteri luar negeri Iran dan Irak di New York memutuskan untuk mengeluarkan Imam Khomeini dari Irak. Hari kedua bulan Mehr 1357 HS (24 September 1978) rumah Imam Khomeini di Najaf di epung oleh tentara Ba’ath Irak. Tersebarnya berita ini menyulut kemarahan luas umat Islam di Iran, Irak, dn negara-negara lainnya. Pada tanggal 12 Mehr 1357 HS (4 Oktober 1978), Imam Khomeini berencana meninggalkan Najaf menuju perbatasan Kuwait. Namun pemerintah Kuwait atas desakan rezim Syah menolak Imam Khomeini memasuki negara ini. Rencana hijrah ke Lebanon dan Syria pun sempat dibicarakan, namun setelah bermusyawarah dengan putranya, Hojjatul Islam Haj Sayed Ahmad Khomeini, Imam khomeini akhirnya memutuskan untuk hijrah ke Paris. Tanggal 14 Mehr 1357 HS (6 Oktober 1978), Imam Khomeini memasuki Paris. Dua hari setelahnya, Imam Khomeini tinggal di kediaman salah seorang warga Iran mukim Perancis di Nofel Loshato, sebuah kota kecil di pinggiran Paris. Para pejabat Perancis menyampaikan pandangan presiden negaranya kepada Imam Khomeini yang berisi desakan untuk menjauhi segala bentuk aktifitas politik selama tinggal di Perancis. Mereaksi desakan tersebut, Imam Khomeini secara lantang menegaskan bahwa pembatasan semacam itu bertentangan nyata dengan slogan demokrasi yang selama ini didengung-dengungkan oleh Perancis. Beliau bahkan menyatakan tidak akan berhenti memperjuangkan cita-citanya meski harus berpindah-pindah dari satu airport ke airport lainnya. Pada bulan Dey 1357 HS (Januari 1979), Imam Khomeini membentuk Dewan Revolusi Islam. Sementara Syah Iran kabur meninggalkan Iran pada tanggal 26 Dey 1357 HS (16 Januari 1979) setelah terbentuknya Dewan Kerajaan dan pengambilan mosi kepercayaan atas kabinet PM Bakhtiar. Berita kepergian Syah pun menyebar ke Tehran dan akhirnya ke seluruh pelosok negeri. Berita pun ini disambut dengan suka cita oleh seluruh rakyat Iran. Imam Khomeini Kembali ke Iran Awal bulan Bahman 1357 HS (akhir Januari 1979), kabar tentang keputusan Imam Khomeini untuk kembali ke tanah airnya tersebar luas. Bagi rakyat Iran, kabar tersebut merupakan berita gembira yang paling dinanti-nantikan. Sekitar 14 tahun rakyat Iran merindukan kembalinya Imam Khomeini ke negerinya. Meski demikian, mereka juga amat mengkhawatirkan keselamatan jiwa pemimpin revolusi itu. Sebab hingga saat itu, pemerintah buatan Syah masih bercokol dan Iran berada di bawah kendali militer. Kendati situasi di Iran masih begitu kritis dan berbahaya, namun Imam Khomeini bertekad untuk kembali ke tanah airnya. Dalam pesannya kepada rakyat Iran, beliau menyatakan bahwa dirinya ingin bersama rakyat di saat-saat yang paling menentukan dan kritis. PM Bakhtiar bersama pihak militer menutup seluruh bandar udara negara untuk penerbangan asing. Namun setelah beberapa hari, pemerintah Bakhtiar tak sanggup bertahan dan terpaksa memenuhi desakan rakyat. Akhirnya pagi 12 Bahman 1357 (1 Februari 1979) setelah 14 tahun hidup di pengasingan, Imam Khomeini kembali ke tanah air tercintannya. Rakyat Iran menyambut kedatangan Imam Khomeini secara besar-besaran dan penuh suka cita. Menurut pengakuan media-media Barat, warga yang menyambut kedatangan Imam Khomeini di jalan-jalan kota Tehran mencapai sekitar 4 sampai 6 juta orang. Selamat Jalan Imam! Imam Khomeini telah menyampaikan seluruh tujuan dan cita-cita perjuangan yang mesti diungkapkan. Dalam prakteknya pun, beliau mengerahkan seluruh daya dan upaya yang dimilikinya untuk merealisasikan cita-cita tersebut. Kini menjelang paruh kedua bulan Khordad 1368 (Juni 1989), Imam Khomeini seakan tengah mempersiapkan dirinya untuk menemui Sang Kekasih, Dzat Maha Suci yang selama ini seluruh perjuangan Imam senantiasa ditujukan untuk mengabdi kepada-Nya. Seluruh rintihan dan puisi sufistik Imam Khomeini merupakan jelmaan dari derita perpisahannya dengan Sang Kekasih dan kerinduannya untuk bertemu dengan Dia. Dan kini, saat-saat perpisahan Imam Khomeini dengan rakyatnya pun telah tiba. Dalam surat wasiatnya beliau menulis, “Dengan hati yang damai, kalbu yang tenang, jiwa yang bahagia dan diri yang penuh harapan kepada karunia ilahi, saya mohon pamit kepada Saudari dan Saudara sekalian menempuh perjalanan menuju tempat keabadian. Saya sangat memerlukan doa baik kalian. Kepada Tuhan yang maha pengasih dan penyayang saya meminta maaf atas segala kekurangan dan kesalahan saya dalam berkhidmat. Saya juga berharap bangsa Iran bisa menerima maaf saya atas segala kekurangan dan kesalahan yang ada. Saya berharap bangsa Iran bisa terus melangkah maju dengan teguh, tekad, dan kehendak”. Yang menakjubkan beberapa tahun sebelum beliau wafat, Imam Khomeini dalam salah satu puisinya pernah menuturkan: Aku menanti datangnya anugrah ilahi di paruh Khordad Tahun demi tahun berlalu Peristiwa demi peristiwa berganti Sabtu 13 Khordad 1367 HS, pukul 22.20 adalah saat-saat perpisahan. Sebuah jantung yang menghidupkan jutaan jantung-jantung lainnya dengan sinaran ilahi dan spiritualitas, berhenti berdetak. Lewat kamera tersembunyi yang terpasang di ruang perawatan Imam Khomeini, di sebuah rumah sakit di Tehran, masa-masa operasi jantung dan detik-detik kepergian sang pemimpin revolusi, seluruhnya terekam sebagai dokumen sejarah. Menjelang masa-masa akhir, kondisi ruhani dan jasmani Imam Khomeini ditayangkan lewat televisi. Tangis dan duka rakyat Iran pun tak bisa ditahan. Bibir Imam Khomeini selalu mengisyaratkan rangkaian dzikir yang tak putus-putusnya. Di malam terakhir hidupnya, setelah menjalani operasi jantung yang sangat berat dan melelahkan di usianya yang ke-87 tahun, beliau masih menyempatkan diri untuk menunaikan ibadah shalat malam meski kedua tangannya masih dipenuhi serum dan infus. Beliau masih meluangkan dirinya untuk membaca kalam suci Al-Quran. Saat detik-detik akhir mulai menjelang, raut muka Imam Khomeini terlihat seperti diliputi aura ketenangan dan penuh damai. Lidahnya tak pernah putus mengucap syahadat atas keesaan Allah dan risalah Rasulullah. Dalam suasana yang begitu pekat dengan cahaya surgawi inilah, jiwa Imam Khomeini terbang menuju keharibaan ilahi. Iran seakan terguncang hebat, saat berita wafatnya Imam Khomeini diumumkan. Seantero Iran dan seluruh sudut dunia yang mengenal pesan dan perjuangan Imam Khomeini tenggelam dalam duka. Tak ada ungkapan dan tulisan yang bisa melukiskan betapa sedihnya rakyat dan umat revolusioner saat melepas kepergian sang Imam, pemimpin agung yang berhasil melepaskan negerinya dari jeratan kezaliman penguasa yang diktator dan campur tangan asing, sosok yang berhasil menghidupkan kembali Islam, mengembalikan kemuliaan umat Islam, mendirikan Republik Islam, seorang ulama besar yang tak gentar menghadapi dua kekuatan adidaya dunia, Timur dan Barat. Selama 10 tahun Imam Khomeini bertahan menghadapi segala bentuk konspirasi penggulingan, kudeta, kerusuhan, dan pelbagai fitnah. Selama delapan tahun, beliau tetap teguh memimpin jihad pertahanan suci menghadapi agresi militer rezim Ba’ath Irak yang didukung oleh dua adidaya dunia, Timur dan Barat. Rakyat benar-benar kehilangan seorang pemimpin tercinta, ulama besar, dan pejuang Islam yang sejati. Mungkin tak ada siapapun yang kuasa untuk menafsirkan perpisahan ini, ketika mereka mendengar betapa banyak pecinta Imam Khomeini yang meninggal dunia lantaran tak mampu menahan pedihnya perpisahan, ketika mereka melihat betapa banyak rakyat yang kehilangan kesadarannya saat melihat jenazah Imam Khomeini disemayamkan, dan ketika menyaksikan jutaan pengagum sang pemimpin revolusi tenggelam dalam tangis dan duka yang mendalam. Namun bagi mereka yang pernah merasakan manisnya cinta, tentu mudah memahami hakikat semua ini. Benar, rakyat Iran sungguh jatuh cinta kepada Imam Khomeini. Dalam selarik puisi yang begitu indah, rakyat Iran menuturkan, “Cinta kepada Khomeini adalah cinta kepada seluruh kebaikan”. Tanggal 14 Khordad 1368 HS (4 Juni 1989), Dewan Ahli Kepemimpinan Revolusi Islam menggelar sidang. Setelah dibacakannya wasiat Imam Khomeini oleh Ayatollah Ali Khamenei yang berlangsung selama dua setengah jam, pembahasan mengenai calon pengganti Imam Khomeini dan pemimpin tertinggi revolusi dimulai. Setelah beberapa jam berlalu, presiden Iran saat itu, Ayatollah Sayid Ali Khamenei terpilih sebagai pemimpin tertinggi revolusi Islam. Beliau adalah salah satu murid dekat Imam Khomeini, tokoh terkemuka pejuang revolusi, dan sahabat seperjuangan yang selalu menyertai Imam di segala keadaaan. Selama bertahun-tahun, Barat dan anasir bonekanya di dalam negeri Iran merasa putus asa untuk menumbangkan Imam Khomeini dan mereka selalu menantikan wafatnya beliau. Namun rakyat Iran begitu waspada dan tanggap. Dengan segera rakyat mendukung keputusan Dewan Ahli yang memilih Ayatollah Sayid Ali Khamenei sebagai pemimpin revolusi sehingga konspirasi musuh pun gagal kembali. Selama ini musuh mengira dengan wafatnya Imam Khomeini , Revolusi Islam pun berakhir. Namun nyatanya, kepergian Imam justru menempatkan era Khomeini ke ranah yang lebih luas dari sebelumnya. Sebab, apakah mungkin pemikiran luhur, kebaikan, spritualitas, dan hakikat bisa musnah? Siang dan malam 15 Khordad 1368 HS (5 Juni 1989), jutaan warga Iran yang datang dari pelbagai kota dan desa datang ke Tehran, memenuhi Mushalla Besar Tehran, untuk melepas kepergian Imam Khomeini yang terakhir kalinya. Dalam upacara pemakamam agung itu, tak terlihat suasana upacara resmi kenegaraan sebagaiman yang biasa dilakukan dalam prosesi pemakaman seorang pemimpin negara. Yang terlihat hanya suasana kerakyatan dan penuh cinta sebuah bangsa revolusioner yang berduka dan menangis melepas pemimpinnya menuju ke haribaan ilahi. Dari kejauhan terlihat jenazah Imam yang terbaring damai di tengah lautan pecintanya yang berduka. Setiap orang berbicara kepada Imamnya dengan bahasa masing-masing sembari menetaskan air mata. Seluruh jalanan yang menuju Mushalla Besar Tehran penuh dengan lautan manusia berbusana hitam, yang mengisyaratkan betapa pedihnya sebuah perpisahan. Bendera-bendera tanda duka terpasang di sudut-sudut kota, lantunan kalam suci Al-Quran terdengar bersahutan di masjid-masjid, rumah-rumah dan perkantoran. Saat malam tiba, ribuan lilin di sekeliling Mushalla Besar Tehran dinyalakan untuk mengenang kobaran revolusi yang dinyalakan Imam. Malam itu, mata seluruh rakyat yang berduka menatapi nyala lilin, seakan mengenang seluruh pengorbanan yang diberikan Imam Khomeini kepada bangsanya. Teriakan “Ya…Husein” para pecinta Imam Khomeini yang merasa menjadi yatim, mengubah malam penuh duka itu menjadi seperti malam-malam Asyura, malam yang begitu tragis saat Imam Husein as, cucu Rasulullah saw dibantai di padang Karbala oleh para durjana. Mereka sadar, suara lembut Imam Khomeini tak akan terdengar lagi di Huseiniyeh Jamaran, tempat di mana Imam biasa mengutarakan cermah-ceramahnya kepada rakyat Iran. Rakyat terus mendampingi jenazah Imam hingga pagi tiba. Awal pagi 16 Khordad 1368 HS (6 Juni 1989), sembari meneteskan air mata jutaan manusia menggelar shalat jenazah yang diimami oleh Ayatollah Al-Udzma Golpaygani. Lautan manusia di saat itu mengingatkan kembali pada peristiwa penyambutan besar-besaran rakyat Iran yang menyambut kedatangan Imam Khomeini dari pengasingan pada tanggal 12 Bahman 1357 HS (1 Februari 1979). Dua peristiwa besar yang akan senantiasa diingat oleh sejarah. Media-media massa dunia memperkirakan, lautan pelayat Imam Khomeini saat itu sekitar 9 juta orang, sementara pada peristiwa penyambutan 12 Bahman, diperkirakan sekitar 6 juta orang. Padahal selama 11 tahun lebih kepemimpinan Imam Khomeini di Iran, beragam fitnah, konspirasi, tekanan dan ancaman negara-negara adidaya, tak pernah berhenti mendera rakyat Iran. Melihat kondisi yang demikian itu, semestinya rakyat Iran sudah letih dengan pelbagai kesulitan yang ada. Namun ajaibnya, justru di tengah pelbagai cobaan dan ujian berat tersebut, rakyat Iran semakin matang dan tegar. Generasi hasil didikan ideologi ilahi Imam Khomeini benar-benar memegang teguh ajaran beliau yang berbunyi, “Beban menahan kerja keras, kesusahan, pengorbanan, kesyahidan, dan derita di dunia sebanding dengan besarnya tujuan, kebernilaian dan ketinggian peringkat tersebut”. Setelah melihat bahwa prosesi pemakaman tak mungkin dilanjutkan di tengah emosi penuh duka rakyat Iran, pemerintah mengumumkan untuk menunda pemakaman dan meminta para pelayat kembali ke rumahnya masing-masing sampai pengumuman berikutnya. Namun di sisi lain, mengingat bahwa penundaan prosesi pemakaman bisa menambah jumlah pelayat yang makin banyak berdatangan dari kota-kota lainnya, maka pemerintah pun memutuskan untuk mengebumikan jenazah Imam Khomeini selepas dzuhur hari itu juga. Prosesi pemakaman pun berlangsung di tengah himpitan lautan manusia yang tenggelam dalam tangis dan duka. Lewat siaran pelbagai media massa, seluruh dunia juga turut menyaksikan prosesi pemakaman seorang pemimpin agung Revolusi Islam ini. Dengan demikian seperti halnya masa-masa hidup Imam Khomeini yang menjadi sumber perjuangan dan kebangkitan, saat-saat kepergian beliau pun seperti itu juga. Semoga abadilah dia. Karena dia adalah hakikat dan hakikat akan senantiasa abadi dan tak kenal fana!

Minggu, 06 Februari 2011

Islam dan Syiah



.
a. Agama

Tak syak lagi bahwa setiap orang dalam kehidupannya—secara fitrah—memiliki kecenderungan kepada sesamanya. Di lingkungan sosial dan kehidupan, ia melakukan aktifitas-aktifitas secara kolektif dan seluruh aktifitas yang dilakukannya selalu berhubungan antara satu dengan yang lainnya.
Seluruh aktifitas manusia, seperti makan, minum, tidur, bangun, berucap, mendengarkan, duduk, berjalan, dan berhubungan dengan sesamanya memiliki relasi yang sempurna, meskipun secara lahiriah terpisah antara yang satu dengan yang lainnya. Setiap aktifitas tidak dapat dilakukan di setiap tempat dan setelah melakukan setiap aktifitas yang lain. Bahkan, dalam hal ini terdapat sebuah sistem (yang mendominasi).
Dengan demikian, seluruh aktifitas yang dilakukan oleh manusia dalam dunia kehidupannya mengikuti sebuah sistem tidak dapat ia langgar. Pada hakikatnya, seluruh aktifitas tersebut bersumber dari sebuah muara. Muara itu adalah keinginannya untuk memiliki sebuah kehidupan yang bahagia; kehidupan yang dapat mewujudkan seluruh keberhasilan, cita-cita, dan keinginannya. Dengan kata lain, dari sisi keabadian wujud, ia ingin—semampu mungkin—untuk memenuhi seluruh kebutuhannya secara lebih sempurna (sehingga ia dapat hidup lebih abadi).
Berangkat dari sini, manusia selalu ingin mengakomodasikan seluruh perilakunya dengan undang-undang yang dibuatnya sendiri atau diambil dari orang lain, dan ingin menjalankan metode tertentu dalam hidupnya. Ia bekerja untuk menyediakan seluruh sarana kehidupan, karena ia menganggap penyediaan sarana tersebut sebagai sebuah undang-udang (hidup). Ia makan dan minum untuk mencapai sebuah kelezatan, menghilangkan rasa lapar dan dahaga, karena ia melihat makan dan minum demi kelangsungan dirinya adalah suatu yang urgen. Dan demikian seterusnya.
Undang-undang dan seluruh peraturan yang mendominasi kehidupan manusia berlandaskan pada sebuah keyakinan (aqîdah) yang fundamental. Ia selalu berpegang teguh kepadanya dalam menjalani kehidupan ini. Keyakinan itu adalah gambaran yang ia miliki tentang dunia semesta di mana ia sendiri termasuk salah satu dari partikelnya dan juga sikap yang diambil dalam (menafsirkan) hakikatnya. Dan masalah ini dapat menjadi jelas dengan kita merenungkan seluruh pemikiran dan pendapat berbeda yang dimiliki oleh umat manusia tentang hakikat alam semesta.
Sebagian orang berkeyakinan bahwa alam semesta hanyalah dunia materi yang dapat diindra semata. Manusia adalah sebuah fenomena yang—seratus persen—bersifat materi. Ia akan ada dengan peniupan ruh kepadanya dan akan binasa dengan datangnya ajal. Dengan keyakinan seperti, metode mereka dalam menjalani hidup ini hanya berkisar pada pemenuhan seluruh keinginan materi dan kelezatan duniawi yang hanya berusia seumur jagung itu. Seluruh usaha mereka akan dikerahkan untuk menundukkan seluruh faktor dan kekuatan alam (materi) terhadap diri mereka.
Ada juga sebagian orang seperti para penyembah berhala yang berkeyakinan bahwa alam semesta ini diciptakan oleh tuhan yang lebih tinggi dari (hakikat)nya. Di samping telah menciptakan alam semesta, tuhan itu juga menciptakan manusia secara khusus dan mencurahkan segala nikmat kepadanya sehingga ia dapat menikmati seluruh kebaikan yang telah diberikan oleh tuhan tersebut. Dengan keyakinan seperti ini, mereka akan mengatur program kehidupan sedemikian rupa sehingga mereka dapat membahagiakan tuhan itu dan menghindari segala perilaku yang dapat mendatangkan kemurakaannya. Mereka berkeyakinan bahwa jika mereka dapat membahagiakannya, niscaya ia akan menambah dan mengabadikan nikmat tersebut. Tetapi jika mereka membuatnya murka, niscaya ia akan mencabut seluruh nikmat tersebut dari tangan mereka.
Kelompok ketiga hanya beriman kepada Allah. Di samping itu, mereka juga meyakini bahwa ada sebuah kehidupan yang abadi bagi manusia, dan juga hari hisab dan pemberian pahala. Dalam kehidupan ini, ia harus bertanggung jawab atas segala perbuatannya, baik yang baik maupun yang buruk. Mereka ini seperti para pengikut agama Majusi, Yahudi, Kristen, dan Islam. Berdasarkan keyakinan tersebut, mereka pasti akan memilih sebuah jalan dalam kehidupan ini yang dapat menjamin perealisasian pondasi keyakinan tersebut dan mewujudkan kebahagiaan di dunia ini dan dunia akhirat kelak.
Kumpulan keyakinan tentang hakikat manusia dan alam semesta, serta seluruh undang-undang yang sesuai dengannya dan dipraktikkan dalam menjalani kehidupan ini disebut “agama”. Jika terdapat cabang dalam agama tersebut, cabang itu disebut “mazhab”, seperti mazhab Syi‘ah dan Ahli Sunah dalam Islam, dan mazhab Malkânî dan Nasthûrî dalam Kristen.
Atas dasar ini, meskipun seseorang tidak meyakini adanya Tuhan, tetapi ia tidak pernah merasa tidak membutuhkan “agama” (program kehidupan yang berdiri tegak di atas sebuah pondasi keyakinan). Oleh karena itu, agama adalah metode menjalani kehidupan, dan ia tidak pernah terpisah dari kehidupan tersebut.
Al-Qur’an meyakini bahwa manusia tidak dapat melarikan diri dari “agama”. Agama adalah jalan yang telah dibuka oleh Allah swt. untuk manusia sehingga ia dapat menggapai kebahagiaan dengan mengamalkan seluruh ajarannya. Hanya saja, mereka yang bersedia menerima agama yang benar (Islam), sesungguhnya mereka telah meniti jalan Allah. Akan tetapi, mereka yang tidak menerima agama yang benar tersebut, maka mereka telah menyeleweng dari jalan Allah dan meniti jalan yang salah.[1]
b. Islam
Secara leksikal, Islam berarti menyerahkan diri. Al-Qur’an menamakan setiap agama yang mengajak kepada penyerahan diri dengan “Islam”. Hal itu lantaran seluruh program agama ini berkisar pada penyerahan diri manusia kepada Tuhan semesta alam.[2] Dengan penyerahan diri tersebut, ia tidak akan menyembah selain Allah Yang Maha Esa dan tidak menaati selain perintah-Nya. Al-Qur’an menegaskan bahwa orang pertama yang menamakan agama ini dengan “Islam” dan menamakan para pemeluknya dengan “muslim” adalah Nabi Ibrahim as.[3]
c. Syi‘ah
Secara leksikal, “Syi‘ah” berarti pengikut. Syi‘ah meyakini bahwa kekhalifahan Rasulullah saw. adalah hak khusus keluarga risalah. Dalam menyelami pengetahuan Islam, mereka mengikuti ajaran Ahlul Bait as.[4]

[1] “… kutukan Allah ditimpakan kepada orang-orang zalim, [yaitu] orang-orang yang menghalang-halangi [manusia] dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan itu bengkok ….” (QS. Al-A‘râf [7]: 44-45)
[2] “Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang ia pun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus ….?” (QS. An-Nisâ’ [4]: 125)
“Katakanlah, ‘Hai ahli kitab! Marilah [berpegang] kepada suatu kalimat [ketetapan] yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, serta tidak [pula] sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah.’ Jika mereka berpaling, maka katakanlah kepada mereka, ‘Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri [kepada Allah].’” (QS. Ali ‘Imran [3]: 64)
“Hai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam [penyerahan diri] secara keseluruhan ….” (QS. Al-Baqarah [2]: 208)
[3] “Ya Tuhan kami! Jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada-Mu dan [jadikanlah] di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada-Mu ….” (QS. Al-Baqarah [2]: 128)
“[Ikutilah] agama orang tuamu, Ibrahim. Ia telah menamai kamu semua orang-orang muslim [berserah diri] ….” (QS. Al-Hajj [22]: 78)
[4] Sebagian golongan mazhab Zaidiyah yang masih meyakini kekhalifahan dua orang khalifah sebelum Ali as. dan mengamalkan fiqih Abu Hanifah dalam Furu’uddin juga dinamakan “Syi‘ah”. Hal itu lantaran mereka meyakini bahwa kekhalifahan hanya milik Ali dan keturunan beliau, ketika mereka berhadapan dengan Bani Umaiyah dan Bani Abasiah.